Sabtu, 19 Januari 2019

Peran Ibu Profesional dalam Membangkitkan Gerakan Nurturing Family





Peran Ibu Profesional dalam Membangkitkan Gerakan Nurturing Family Untuk Mewujudkan Peradaban Bangsa Indonesia yang lebih Maju dan Sejahtera

Oleh: Ika Nurmaya


Peradaban bangsa Indonesia dewasa ini masih jauh dari cita-cita yang ada UUD 1945 pasal 33 tentang kemakmuran atau kesejahteraan rakyat. Dalam Pancasila dikatakan pada sila kelima bahwa seharusnya peradaban bangsa Indonesia itu dapat mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Gambar pada sila kelima adalah kapas dan padi melambangkan pangan dan sandang yang merupakan kebutuhan pokok semua rakyat Indonesia tanpa melihat status atau kedudukan yang berarti kesejahteraan sosial. Kesejahteraan sosial merupakan salah satu indikasi majunya sebuah peradaban bangsa.


Salah satu indikator  pembangunan Kesejahteraan sosial Internasional adalah MDGs (Millenium Development Goals) yang berakhir pada tahun 2015, saat ini diteruskan dengan SDGs (Sustainable Development Goals). SDGs melanjutkan cita-cita mulia MGDs yang ingin konsen menanggulangi kelaparan dan kemiskinan di dunia.


Indonesia dalam buku Suarakan MDGs oleh Stalker (2008), masih ada beberapa indikator MDGs yang perlu kerja keras jika dibandingkan target dalam pencapaiannya, yaitu indikator: kemiskinan, proporsi pekerja yang memiliki rekening pribadi dan anggota keluarga bekerja terhadap jumlah pekerja total, malnutrisi anak, kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan, Tingkat Kematian Ibu (Per 100.000), Prevalensi HIV dan AIDS (per 100.000), juga perpipaan air minum di kota maupun di desa.Tentunya hal ini perlu dukungan seluruh rakyat Indonesia untuk mewujudkan Kesejahteraan sosial, termasuk mendukung pencapaian target MDGs/SDGs tersebut.

Sebuah peradaban tentunya sangat didukung dari kesejahteraan yang tercipta dari masyarakat. Dan institusi terkecil bagian dari masyarakat adalah keluarga. Sebuah keluarga dikatakan baik peradabannya jika keluarga itu dapat berdaya dan bermanfaat baik bagi keluarga itu sendiri maupun masyarakatnya. Anggota keluarga yang memegang peranan adalah ayah dan Ibu. Ibu sebagai pelaksana harian dari sebuah keluarga tentunya sangat berperan aktif demi tercapainya keluarga yang berdaya dan bermanfaat  Ibu punya peran penting dalam Nurturing Family, yaitu pengasuhan keluarga yang didalamnya terjadi proses penumbuhkembangan segala potensi anggota keluarga sehingga bisa berdaya dan bermanfaat.


Jika dicari dalam kamus bahasa, kata Nurture ini, bisa mempunyai arti mengasuh, memberi makan, membesarkan, mendidik, memelihara, merawat, mengembangkan, menghidupi, meningkatkan, mendorong, menyuburkan dan sebagainya. Nurturing Family  adalah keyakinan bahwa ilmu mengasuh anak harus dipelajari dan hanya orang tua yang bisa paling berhasil dalam mengasuh anak-anak mereka ketika orang tua sudah kompeten dalam keterampilan mereka, hal ini perlu bantuan orang lain dan komunitas yang dapat mendukung  diri orangtua itu sendiri (www.familynurturing.org, 2019). Ibu adalah bagian dari orangtua, maka ibu sudah seharusnya menyadari perannya yang begitu besar dan harus sadar diri dengan mencari cara agar berperan aktif dalam Nurturing Family.


   Salah satu cara bagi para Ibu untuk dapat ilmu dan dapat berperan dalam membangkitkan Nurturing Family adalah dengan bergabung pada komunitas yang juga mendukung keilmuan dan gerakan Nurturing Family. Salah satu komunitas Nurturing Family yang saat ini sedang berkembang pesat adalah komunitas Institut Ibu Profesional (IIP). Komunitas IIP ini didirikan oleh ibunda Septi Peni Wulandani pada Tanggal 22 Desember 2011. Ibu Septi didukung oleh suaminya, mendirikan IIP setelah mereka sendiri telah mencoba dan melakukan penelitian terhadap konsep dan tatacara dalam pendidikan dan penerapan ilmu tentang Nurturing Family.


Definisi Ibu Profesional  adalah seorang perempuan yang bangga akan perannya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya, dan senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu agar bisa bersungguh-sungguh dalam mengelola keluarga dan mendidik anaknya (www.ibuprofesional.com, 2017) Dengan mottonya Ibu Profesional Kebanggan Keluarga, maka seluruh tim dalam IIP ini bekerjasama bersinergi mengembangkan ilmu dan potensi para Ibu yang tergabung didalamnya.


Definisi kata Profesional berarti memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya (sumber: KBBI), dan visi dari IIP adalah Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.  Misi IIP adalah : 1) Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anaknya. 2) Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul. 3) Meningkatkan rasa percaya diri  ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya 4) Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.


Perlunya kerja keras Indonesia dalam meraih beberapa target indikator MDGs, adalah keadaan yang membuktikan bahwa peradaban bangsa kita masih jauh dari sejahtera. Melihat keadaan itu tak dapat dipungkiri bahwa Nurturing Family harus dijadikan gerakan yang bisa membangun peradaban bangsa kita menjadi lebih maju dan sejahtera. Sebuah cita-cita besar berasal dari cita-cita keluarga, namun jika yang melakukan banyak dan jumlahnya bertambah tentunya ini akan menjadi efek domino yang saling menular dan mewabah, sehingga bisa menjadi pola pikir dan pola hidup bangsa.


Jika anda telah membaca visi dan misi IIP di atas, tentu anda menyadari bahwa ada kemungkinan besar keberhasilan membangkitkan gerakan Nurturing Family bangsa Indonesia bisa didukung dengan peran Ibu Profesional dalam menjalankan misi IIP. Para Ibu yang telah dididik, dilatih dan diberdayakan di IIP ini bukan hanya melaksanakan amanat pengembangan keluarganya, tapi sebagai langkah awal, mereka harus mengenal dirinya termasuk potensi dan daya apa yang bisa dikembangkan dan digunakan  kemudian hari. Sehingga ia bisa menggunakan potensi dari dalam dirinya untuk kemaslahatan dirinya sendiri, keluarga serta masyarakatnya. Untuk menjalankan keempat misi di atas, Ibu Profesional di IIP harus melalui empat tahap yaitu 1) bunda sayang untuk menjalankan misi pertama 2) bunda cekatan untuk menjalankan misi kedua 3) bunda produktif untuk menjalankan misi ketiga dan 4)  bunda shaleha untuk menjalankan misi keempat.


Dari tahapan Ibu Profesional di atas, tentunya hal ini akan sangat mendukung gerakan Nurturing Family Setiap tahapan menghasilkan output outcame yang utamanya untuk keluarga, yang kemudian dari potensi diri yang terlatih, maka ada kesempatan bagi para Ibu untuk menjadi agent of change pada masyarakatnya dalam rangka meraih kesejahteraan sosial.


Jika Ibu Profesional bisa mengambil peran penting dalam usaha membangkitkan gerakan Nurturing Family ini, maka insyaAllah bangsa ini akan semakin maju dan sejahtera peradabannya. Sudah saatnya menjalankan peran kita sebagai seorang yang profesional dalam hal pengasuhan keluarga, sehingga diharapkan upaya Ibu profesional ini dapat menular, meluas pada seluruh ibu di Indonesia, hingga pada keluarga yang lain hingga pada seluruh bangsa Indonesia.
Salam Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga.

#IbuProfesionalASIA
#1stAnniversaryIPAsia

Refferensi:

Family Nurturing Center.2018. http://www.familynurturing.org/. (akses 12 Januari 2019)


Isbandi, Adi Rukmianto. 2005. Ilmu Kesejateraan Sosial dan Pekejaan Sosial.Jakarta. FISIP UI Press

KBBI, 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). [Online] Available at: http://kbbi.web.id/pusat, (akses 12 Januari 2019)

Stalker. 2008. Mari Kita Suarakan MDGs. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta

Tim Redaksi Ibu Profesional. 2017. Mengenal Ibu Profesional. https://www.ibuprofesional.com/blog/mengenal-ibu-profesional (akses 12 Januari 2019)

Wahyuningsih. 2017. Millenium Development Goals (MDGs) dan Sustainable Development Goals (SDGs) Dalam Kesejahteraan Sosial. Bisma Jurnal Bisnis dan Manajemen Vol. 11, No. 3.



         
*)Tulisan ini diikutkan Sayembara Menulis yang diadakan oleh Ibu Profesional Asia dengan tema “Ibu Profesional Nurturing Family”

Jumat, 14 September 2018

resensi buku resensi novel : Burlian

resensi buku
resensi novel
Judul Buku : BURLIAN; SERIAL ANAK-ANAK MAMAK
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tahun Terbit : Juni – 2017
Tebal Halaman : 339 halaman

Hasil gambar untuk gambar novel burlian
Sinopsis Buku :
Novel ini adalah seri ketiga dari 4 novel SERIAL ANAK-ANAK MAMAK, ELIANA, PUKAT, BURLIAN dan terakhir AMELIA. Setiap novel seakan berdiri sendiri, namun saling berkaitan. Namun, jika tidak mengikuti dua novel sebelumnya, tidak akan kebingungan untuk menyimak novel BURLIAN ini. Novel ini menceritakan kisah seorang anak, yang merupakan anak ketiga dari mamak, anak yang spesial.

Novel ini mengambil sudut pandang dari Burlian sebagai tokoh utama. Penceritaannya juga menjawab dan mengklarifikasi pernyataan, pertanyaan atau cerita, pengalaman dari Burlian. Seperti rasa sedih akibat ditinggal mati sahabatnya Ahmad, rasa takut yang memacu adrenalin saat jatuh di lubuk buaya. Termasuk latar belakang kelahiran dari Burlian yang spesial, yang seakan menjadi penyebab Burlian begitu sering menemui peristiwa yang menjadikannya ia menjadi tokoh spesial dalam peristiwa itu.
Burlian, diceritakan sebagai anak yang spesial, hidupnya sering bersinggungan dengan peristiwa besar. Burlian sering terlibat dalam peristiwa-peristiwa yang nyaris membuatnya kehilangan nyawa. Saat membaca novel ini, berbagai rasa akan terasa, baik senang, sedih, takut, was-was, ceritanya begitu mengalir seperti naik jet coaster, karena peralihan rasa yang dikemas sangat apik.

Anak-anak seusia Burlian, sangat butuh teladan, kadang perlu dihukum sehingga mereka bisa mengambil pelajaran. Namun kadang tidak perlu dihukum jika mereka sudah merasakan sendiri dampak dari keteledoran mereka, tidak perlu diceramahi panjang lebar. Kisah Burlian sangat menyadarkan kita para orangtua yang membacanya, bagaimana harusnya bersikap pada anak-anak seusia Burlian. Jika pembaca novel ini adalah anak-anak, mereka akan banyak mengambil pelajaran dari kisah Burlian ini, akhlak berbudi dari bangsa Melayu sangat terlihat dan bisa masuk ke hati tanpa merasa digurui.

Novel ini juga menceritakan tentang perjuangan hidup lelaki tangguh dan pengorbanan cinta tiada tara dari seorang wanita. Nilai-nilai kehidupan seperti bekerja keras, berani berkorban, jujur, kesetiakawanan sangat kuat dimunculkan, membalut novel ini menjadi novel yang cantik sekaligus cerdas untuk membangun jiwa pembacanya.

Kelebihan buku :

  • Cover bukunya sangat kekinian, perpaduan warna yang bagus.
  • Banyak kisah yang membuat pembaca dapat senyum-senyum sendiri.
  • Model penceritaannya dibuat seperti bertutur, pembaca merasa terlibat dan melihat langsung kejadiannya
  • Novel Burlian sangat tampak seperti kisah nyata. Walaupun banyak yang beranggapan cerita dalam novel ini fiksi, tapi penceritaannya sangat tidak berlebihan dan seperti mengalir apa adanya.
  • Dari dialog dan penjelasan adegan di dalam setiap kalimat tidak berlebihan, sehingga tidak membuat pembaca yang “baru mulai belajar membaca novel” tidak lelah untuk mengikuti jalan ceritanya.
  • Cerita sangat ringan, dapat dibaca oleh semua kalangan umur.

Kekurangan buku :

  • Tidak ada gambar di dalam novel, jika pembacanya anak-anak atau dari kalangan remaja, sangat dibutuhkan gambar.
  • Terdapat beberapa adegan yang sepertinya tidak mungkin dilakukan oleh anak seumur itu  pada jaman now. Namun dari ceritanya, tampak Burlian lahir di tahun televisi masih hitam putih, jadi bisa saja anak-anak jaman old melakukan hal itu.

Kamis, 18 Januari 2018

Fitrah Seksualitas : Peran Ayah Bunda atasi Syndrom Cinderella, Peter Pan dan Cara Melindungi Anak dari Penyimpangan Seks

MEMBANGKITKAN FITRAH SEKSUALITAS ANAK

Review Presentasi Kelompok 2

Hari ke 2  , tanggal 6 Januari 2018
Pada kali ini dibawakan oleh Kelompok 2, yang membahas tentang :
Apa itu Fitrah Seksualitas dan peran ayah bunda untuk membangkitkannya pada tiap fase
  1. Bagaimana Cara membangkitkan Fitrah Seksualitas pada anak-anak dengan SA-DA-RI
  2. Apa peran dan Fitrah Ayah Bunda yang harus ada untuk membersamai Fitrah Seksualitas anak
  3. Tantangan Gender yang sedang marak di dunia
  4. Apa yang menjadi perbedaan antara Gender dengan seks
  5. Tips bagi orangtua jika anak bertanya tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan
  6. Tips bagi orang tua saat mendampingi ananda menonton TV
  7. Tips bagi orang tua saat anak berpenampilan tidak sesuai gendernya
  8. Tips bagi orang tua saat anak pada kondisi tidak nyaman bersama orang lain selain orang tua



Berikut penjelasan yang disertai gambar berikut ini:

Apa itu Fitrah Seksualitas dan peran ayah bunda untuk membangkitkannya pada tiap fase. Kelompok 2 menjelaskan bahwa Fitrah Seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Dan ada 4 fase untuk dapat membangkitkan Fitrah Seksualitas anak, yang mengharuskan tiap orangtua perlu membersamai anak-anak pada usia 0-2 tahun, 3-6 tahun, 7-10 tahun dan 11-14 tahun. Cara yang dipakai pada tiap fase inipun berbeda sesuai dengan umur anak-anak, dapat dilihat pada gambar berikut:

Bagaimana Cara membangkitkan Fitrah Seksualitas pada anak-anak dengan SA-DA-RI, maksudnya adalah dengan SAyangi anak-anak, DAmpingi anak-anak, dan tenangkan diRI. SAyangi adalah bagaimana orangtua keberadaannya hadir dalam pengasuhan anak-anak dan menjalankan perannya sebagai ayah dan bunda. DAmpingi anak adalah dengan aktif berkomunikasi sesuai dengan jenjang usianya. Bisa menenangkan diri. Tenangkan diRI adalah bagaimana ayah bunda bersikap ketika anak bertanya berkaitan dengan seks maupun jenis kelamin, bagaimana ayah bunda menghadapi sikap anak maupun temannya, namun tetap waspada atas segala perubahan sikap dari anak-anak.


Apa peran dan Fitrah Ayah Bunda yang harus ada untuk membersamai Fitrah Seksualitas anak. Fitrah Peran Ayah dan Bunda saling melengkapi untuk menumbuhkan fitrah seksualitas anak, seperti pada gambar berikut ini:


Tantangan Gender yang sedang marak di dunia diantaranya: PeterPan Syndrom, Cinderella Complex, LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) dan Pelecehan Sexual.


Ada perbedaan antara Gender dengan seks. Gender adalah berbagai dimensi terkait jenis kelamin yang biasanya berhubungan dengan status sosial dan budaya. Sedangkan seks adalah dimensi terkait jenis kelamin secara biologi yang sudah merupakan kodrat dari Tuhan



Tips bagi orangtua jika anak bertanya tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan, ini sebuah momen yang tepat, sehingga orangtua bisa memberikan pendidikan seks pada anak, jadi sudah sepatutnya kita bersikap wajar dan jelaskan perbedaan antara pria dan wanita sesuai dengan pemahaman usia anak. Momen ini adalah momen yang berharga, karena anak lebih baik tahu informasi pendidikan seksual ini dari orangtuanya daripada ia tidak mendapatkan sama sekali, atau jika ia mendapatkan dari luar.



Tips bagi orang tua saat mendampingi ananda menonton TV, dimulai dengan menempatkan TV di tempat yang seluruh keluarga biasa berkumpul, sehingga anak tidak dibiasakan menonton sendiri. Saat anak tidak sengaja melihat adegan dewasa, maka dampingi anak lalu berkomunikasilah jelaskan yang perlu saja dan sederhana.


Tips bagi orang tua, saat mengetahui anak berpenampilan tidak sesuai gendernya.Mulailah dengan menata hati, bersabar, lalu tanyakan dulu mengapa ia melakukannya. Bicaralah baik-baik dengan anak tentang alasan ia memakainya dan berilah ia pengertian bahwa berpenampilan seperti itu tidak sesuai dengan nilai agama. Lalu ajaklah ia memilih pakaian yang sesuai dengan gendernya. Setelah itu anda bisa menasehatinya dengan cara bercerita tentang peran atauaktivitas yang mendukung peran jenis kelaminnya.


Tips bagi orang tua saat anak pada kondisi tidak nyaman bersama orang lain selain orang tua. Orangtua perlu memberitahu pada anak-anak untuk tidak bicara, tidak ngobrol dengan orang yang belum pernah ditemuinya. Berikan informasi bagian tubuh yang tidak boleh dipegang atau disentuh orang lain, yaitu sekitar mulut, leher, dada, kemaluan, pantat dan paha. Berikan pengetahuan cara menolak atau menyelamatkan diri dari orang yang meraba, memangku atau memaksa untuk mengikuti kemauan orang itu. Beritahu anak bila ada kejadian yang tidak membuatnya nyaman, ia harus menceritakannya pada orangtua. Dan saat anak mau bercerita tabahkan hati orangtua untuk tidak takut, tetap tenang saat mendengarkan, rekam baik-baik semua cerita anak, sebagai informasi yang berharga untuk pengambilan keputusan selanjutnya.


Berikut tanya jawab dan informasi tambahan yang bisa menjadi penjelasan dari presentasi di atas:

  • Pertanyaan pertama
    Bagaimana solusinya jika setelah menikah baru menyadari bahwa kita telah cinderela syndrome ?
    Jawab
    ● Harus ada keinginan dalam diri sendiri untuk berubah
    ● Lingkungan harus mendukung
    ● Jika diperlukan terapi, mengapa tidak?
    ● Minta pertolongan kepada Allah
  • Pertanyaan Kedua


Cara mendidik yg seperti apa utk menghindarkan anak-anak kelak dari Peterpan/cinderela syndrome?

Jawab:
pengasuhan orang tua yang menyebabkan anak memiliki jiwa peter pan &Cinderella?
● Ortu yang selalu melindungi
● Ortu yang membiarkan anak bermanja-manja secara berlebihan
● Ortu yang tidak membangun jiwa BMM (Berfikir-Memilih-Mengambil Keputusan)
  • Pertanyaa Ketiga

    Apakah seorang perempuan yang selalu perhitungan dengan resiko ( pertimbangan, setiap mau melangkah dipikir dulu resikonya, cenderung takut ) apakah termasuk Cinderella syndrome?
    Jawab:
    ciri-ciri yang disebutkan di atas cenderung  peter pan syndrome

  • Pertanyaan Keempat
    Melihat pada  video sentuhan boleh dan tidak boleh..
    Ini ada anak tetangga yg tiap sore kalo anak saya Safeea (2,5y) hbs mandi selalu dicium pipi bahkan pernah kena bibir..Nah bagaimana sikap saya seharusnya?
    Apa hal seperti itu harus di cegah ataukah dimaklumi krn masih anak anak ? anak tetangga tersebut sering mencium bibir anak saya. Mereka sebaya sekitar 2,5tahunan
Jawab:
Jika antar ortu dan anak tidak apa-apa, tapi klo cium bibir bkn anggota keluarga sepertinya dicegah saja, nanti kebablasan dengan teman, apalagi dg jenis kelamin yang lain.




  • Pertanyaan Kelima
    Bagaimana solusinya jika setelah menikah baru menyadari bahwa kita telah cinderela syndrome ?

    Jawab:
    ● Harus ada keinginan dalam diri sendiri untuk berubah
    ● Lingkungan harus mendukung
    ● Jika diperlukan terapi, mengapa tidak?
    ● Minta pertolongan kepada Allah


  • Pertanyaan keenam

Cara mendidik yg seperti apa utk menghindarkan anak anakku kelak dari Peterpan/cinderela syndrome?
Jawab:
Pengasuhan orang tua yang menyebabkan anak memiliki jiwa peter pan & Cinderella, karena itu hindari sikap berikut:
● Orangtua yang selalu melindungi
● Orangtua yang membiarkan anak bermanja-manja secara berlebihan
● Orangtua yang tidak membangun jiwa BMM (Berfikir-Memilih-Mengambil Keputusan)

Mengapa bisa demikian?
● Orangtua tidak siap menjadi Orangtua
● Orangtua yang kehidupannya dahulu sangat susah, sehingga kini memiliki ’dendam positif’
ingin memanjakan anak dengan berbagai kemudahan
● Ayah – Ibu dengan pengasuhan bertentangan. Ayah mau A, Ibu mau B. Tidak pernah
kompak, sehingga anak menjadi bingung.
● Orangtua yang lama sekali baru dikaruniai seorang anak.

  • Pertanyaan ketujuh

Bagaimana dengan pola pikir anak laki2 yang seperti perempuan misalnya lebih mengedepankan perasaan...halus...lembut hatinya...apakah masih wajar?apakah anak laki2 ini memang termasuk anak yg sensitif saja?bagaimana batasannya?
Jawab:
Pada prinsipnya Ayah berperan memberikan Suplai Maskulinitas dan Ibu berperan memberikan Suplai Femininitas secara seimbang. Anak lelaki memerlukan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai feminitas. Anak perempuan memerlukan suplai femininitas 75% dan suplai maskulinitas 25%.

Saat ini, banyak sekali pasangan muda yang belum lama menikah akhirnya bercerai.
Fenomena seperti itu kian meningkat. Padahal waktu mereka berpacaran, sepertinya tidak ada masalah. Namun setelah memasuki dunia pernikahan banyak hal yang mereka temui, bahkan mungkin hal-hal sepele, yang menjadi pemicu keretakan dalam rumah tangga. Ternyata pada saat ”penjajakan”, masing-masing dari mereka tidak sempat mengenali pasangannya dari sudut pandang pengasuhan. Mereka tidak menyadari bahwa di dalam diri pasangan atau diri mereka sendiri, terdapat jiwa-jiwa peter pan dan cinderella.

  • Apa itu Sindrom Peter Pan?
    Peter Pan adalah seorang tokoh dalam cerita anak-anak yang ditulis JM Barrie (1860-1937),
    seorang sastrawan dari Skotlandia. Peter Pan digambarkan sebagai karakter bocah lelaki nakal yang bisa terbang dan secara magis menolak menjadi dewasa.
    Watak Peter Pan yang serba kekanak-kanakan ini oleh Dan Kiley (1983) dijadikan sebuah “penyakit” psikologis, yang disebut sindrom Peter Pan. Sindrom Peter Pan ditujukan untuk orang dewasa yang secara sosial tidak menunjukkan kematangan. Sindrom ini lazim diderita kaum lelaki yang secara psikologis, seksual, dan sosial menunjukkan perilaku yang keluar dari pengasuhan.


Sindrom tersebut memakai nama Peter Pan, karena memang Peter Pan ‘menolak’ menjadi dewasa karena tak mau kehilangan masa kanak kanaknya. Karena itu sangat sesuai untuk menggambarkan laki-laki dewasa yang masih bersifat kekanak-kanakkan.

Apa ciri-ciri orang yang mengalami sindrom Peter Pan ?
● tidak sudi / cenderung tidak bertanggung jawab
● suka melawan
● sulit berkomitmen
● manja
● tidak suka bekerja keras
● pemarah (mudah marah jika keinginannya tak terpenuhi), suka mengamuk
● cinta diri sendiri secara berlebihan (narsis)
● mengalami ketergantungan pada orang lain / dependency (bahkan hingga hal-hal yang kecil)
● senang memanipulasi (manipulativeness), jago ‘bicara’ untuk membuktikan bahwa dia yang benar
● memiliki keyakinan yang melampaui hukum-hukum dan norma masyarakat.
● enggan untuk hidup sendiri dan selalu merasa sendiri (??)
● tidak berani mengambil keputusan dan menanggung resiko
● mudah sakit hati
● tidak bisa menerima kritikan
● kurang percaya diri
● menolak berhubungan dengan lawan jenis
● pemberontak

Salah satu penyebab munculnya sindrom ini adalah akibat pola asuh yang tidak sengaja salah semasa kanak kanak. Misalnya kalau anak melakukan kesalahan, orang tua selalu membelanya. Orang tua terlalu melindungi anaknya, selalu turun tangan dalam setiap masalah anaknya, terlalu menuruti permintaan anak. Akibatnya meski sudah dewasa tetap saja seperti anak anak. Hal ini bisa difahami, karena kepribadian seorang anak, 80% dipengaruhi oleh lingkungannya (lingkungan terdekat seorang anak adalah kedua orang tuanya), dan hanya 20% dipengaruhi oleh faktor keturunan (genetik).

Seorang laki-laki yang mengalami sindrom Peter Pan, sangat membutuhkan seorang istri yang bersifat seperti ibunya. Layaknya seorang ibu yang akan menyayangi, melindungi dan melayani anaknya. Jika ia tidak mendapatkan sosok istri yang seperti itu, ia akan sangat mudah untuk membanding-bandingkan istrinya, dan merasa istrinya tidak bisa mengurusinya sebagai suami, dan ia akan sering kali ‘pulang’ dan bermanja-manja kepada ibunya.

  • Apa itu Cinderella Compleks?
    Seperti yang telah kita ketahui, Cinderella mengambarkan tokoh dalam film kartun anak-anak, yang semasa kecilnya hidup bahagia bersama ayah dan ibunya. Namun menjelang remaja, kehidupannya berubah karena, ibu kandungnya meninggal dan ayahnya menikah dengan wanita lain. Setelah ayahnya menikah, kehidupan Cinderella menjadi sangat tidak bahagia.
    Karena ibu dan 2 saudara tirinya itu sangat membenci Cinderella. Kehidupan cinderella menjadi sangat pahit, menyebabkan ia merindukan sosok lelaki seperti ayahnya yang akan melindungi dan menyayangi dirinya.


Istilah sindrom Cinderella Complex menggambarkan sebuah ketakutan tersembunyi pada perempuan untuk mandiri. Karena yang ada dalam pikiran mereka adalah keinginan untuk selalu diselamatkan, dilindungi, dan tentunya disayangi oleh “sang pangeran”.
Dalam keseharian, “penyakit psikologis” ini biasa disebut dengan Syndrom Umur 20, Syndrom Umur 21, Syndrom Umur 22, Syndrom Umur 23, dan seterusnya sepanjang si perempuan itu addicted dengan khayalan akan bertemu dengan pangeran impiannya sebagaimana yang terjadi di dalam dongeng Cinderella.

Seorang wanita yang mengalami Cinderalla compleks, sangat membutuhkan seorang suami yang bersifat seperti ayahnya, yang dewasa, mengayomi, dan selalu melindungi.

Anda-kah orang tua yang menumbuhkan jiwa peter pan & cinderella pada jiwa anak?

Seperti apa pola pengasuhan orang tua yang menyebabkan anak memiliki jiwa peter pan & Cinderella?
● Ortu yang selalu melindungi
● Ortu yang membiarkan anak bermanja-manja secara berlebihan
● Ortu yang tidak membangun jiwa BMM (Berfikir-Memilih-Mengambil Keputusan)
Mengapa bisa demikian?
● Ortu tidak siap menjadi ortu
● Ortu yang kehidupannya dahulu sangat susah, sehingga kini memiliki ’dendam positif’ ingin memanjakan anak dengan berbagai kemudahan
● Ayah – Ibu dengan pengasuhan bertentangan. Ayah mau A, Ibu mau B. Tidak pernah kompak, sehingga anak menjadi bingung.
● Ortu yang lama sekali baru dikaruniai seorang anak.



Jika sudah terlanjur, harus bagaimana?
● Laki-laki yang mengalami sindrom peter pan tidak akan mengalami kesulitan dalam
pernikahannya, jika mendapatkan istri dengan karakter keibuan.
● Begitu pula sebaliknya, bagi sang ’cinderella’ yang mendapatkan suami dengan karakter ke’ayah’an yang kuat.
● Untuk istri-istri yang jadi ibu bagi peter pan harus memahami mengapa suaminya
bersifat kekanak-kanakan, harus mau berkorban dan ‘tega’ untuk membentuk kembali jiwa kemandiriannya.
● Untuk suami-suami yang jadi ayah bagi Cinderella juga harus memahami mengapa ia bersikap seperti itu dan ajak bicara secara baik-baik.

Bagaimana menghilangkan ‘penyakit psikologis’ tersebut?
● Harus ada keinginan dalam diri sendiri untuk berubah
● Lingkungan harus mendukung
● Jika diperlukan terapi, mengapa tidak?
● Minta pertolongan kepada Allah


Pesan ibu Elly Risman- [Dearparents[at]yahoogroups.com]
Anak-anak kita….kelak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang akan memasuki dunia pernikahan dan memiliki kehidupan rumah tangga sendiri. Pengasuhan kita kepada mereka
sangat berpengaruh bagi perkembangan jiwa-jiwa mereka. Apakah anak lelaki kita akan tumbuh menjadi orang dewasa dengan jiwa yang kekanak-kanakan ? Apakah anak perempuan kita akan tumbuh menjadi orang yang merindukan ‘pangeran’ ? ​Semuanya tergantung pada pengasuhan kita. Jika kita merindukan anak-anak kita kelak tumbuh menjadi orang yang dewasa sesungguhnya, maka marilah kita buat pengasuhan dalam rumah-rumah kita menjadi lebih baik…


#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#FitrahSeksualitasAnak
#Parenting
#Pengetahuan
#Seks
#AyahBunda
#OrangTua
#Anak
#EllyRisman
#Fitrah Seksualitas
Pereview: IKA NURMAYA

Peran Ibu Profesional dalam Membangkitkan Gerakan Nurturing Family

Peran Ibu Profesional dalam Membangkitkan Gerakan Nurturing Family Untuk Mewujudkan Peradaban Bangsa Indonesia yang lebih Maju dan Se...